Survei APJII 2024/2025 menunjukkan jumlah pengguna internet Indonesia telah mencapai 229,4 juta jiwa — atau 79,5% dari total populasi. Angka ini meningkat konsisten dari 73,7% pada 2021, menandai transformasi digital yang terus berjalan.
Siapa Pengguna Internet Indonesia?
Mayoritas pengguna internet Indonesia mengakses melalui smartphone (96,4%). Penetrasi tertinggi ada di kelompok usia 15-24 tahun (98,2%), diikuti usia 25-34 tahun (95,1%). Sementara kelompok 55+ baru mencapai 51,3%.
Berdasarkan wilayah, Jawa mendominasi dengan penetrasi 85,3%, disusul Bali-Nusa Tenggara (78,1%), dan Sumatera (75,2%). Papua dan Maluku berada di posisi terbawah dengan penetrasi masing-masing 52,1% dan 58,7%.
Kesenjangan Digital yang Masih Lebar
Meskipun angka nasional terlihat positif, kesenjangan digital (digital divide) masih menjadi masalah serius. Penetrasi internet di daerah perkotaan mencapai 89,2%, sementara pedesaan hanya 65,8% — selisih 23,4 poin persentase.
Kualitas koneksi juga sangat timpang. Rata-rata kecepatan download di Jakarta mencapai 45 Mbps, sementara di Papua Pegunungan hanya 5-8 Mbps. Ini berpengaruh langsung pada kemampuan masyarakat mengakses layanan digital seperti e-commerce, edtech, dan telemedicine.
Implikasi bagi Ekonomi Digital
Pertumbuhan pengguna internet menjadi fondasi ekonomi digital Indonesia yang nilainya diproyeksikan mencapai $130 miliar pada 2025 (Google-Temasek-Bain). Namun tanpa mengatasi kesenjangan digital, pertumbuhan ini hanya dinikmati oleh penduduk urban di Jawa.
Program pemerintah seperti Palapa Ring dan Satria-1 diharapkan dapat mempersempit gap ini, tapi infrastruktur saja tidak cukup — diperlukan juga peningkatan literasi digital dan konten lokal yang relevan.